Hadapi Kendala Aspal, BBM dan Banjir, Proyek Jalan Tinombo-Toboli Tetap Melaju

PARIGI MOUTONG, BERANTAS.ID — Pasokan aspal tersendat, ketersediaan BBM sempat menjadi kendala, bahkan banjir menerjang sejumlah titik pekerjaan. Namun, berbagai tantangan itu tak membuat pekerjaan Jalan Nasional di Kabupaten Parigi Moutong berhenti.

Sebaliknya, progres fisik Proyek Jalan Tinombo-Toboli 2026 telah mencapai 61,90 persen hingga Oktober 2026, atau berada 2,48 persen di atas target yang telah ditetapkan.

Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa pekerjaan preservasi jalan nasional yang ditangani Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Provinsi Sulawesi Tengah,Nurhasna, ST., MT., BPJN Sulteng, masih bergerak dalam jalur positif meski kondisi lapangan tidak sepenuhnya mudah.

Bukan hanya soal mengejar persentase progres. Pekerjaan juga harus berjalan beriringan dengan menjaga akses masyarakat, menangani dampak banjir, hingga memastikan jalur strategis Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli tetap bisa dilalui.

Dua Segmen Jadi Fokus Utama

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Provinsi Sulawesi Tengah, Nurhasna, ST, MT, mengatakan pekerjaan di lapangan terus dikebut dengan sejumlah item utama yang kini menjadi fokus penyelesaian.

Preservasi Jalan Nasional Ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli

“Saat ini pekerjaan di lapangan terus berjalan. Item pekerjaan utama saat ini yang tersisa adalah pelebaran jalan Segmen 1 Ruas Ampibabo-Sinei dan pelebaran Segmen 2 Ruas Tinombo-Sinei,” ujar Nurhasna.

Preservasi Jalan Nasional Ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli

Dalam paket tersebut, pekerjaan pelebaran menjadi salah satu bagian penting untuk meningkatkan standar pelayanan jalan nasional.

Segmen 1 Ruas Ampibabo-Sinei memiliki panjang 1,8 kilometer. Sementara Segmen 2 Ruas Tinombo-Sinei mencapai 3,18 kilometer.

Preservasi Jalan Nasional Ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli

Jika digabungkan, pekerjaan pelebaran menuju standar mencapai 4,98 kilometer. Namun, pekerjaan proyek ini tidak hanya berkutat pada pelebaran jalan.

Paket preservasi juga mencakup penanganan rutin kondisi jalan, holding, minor jalan, rekonstruksi, drainase, rehabilitasi jembatan hingga pemeliharaan berkala jembatan.

Berdasarkan Kontrak Nomor HK0201/T/SP-J.TSAT/Bpjn18.6.2/2026/01 yang dimulai 6 Maret 2026, pekerjaan mencakup penanganan rutin kondisi jalan sepanjang 80,99 kilometer.

Selain itu, terdapat pekerjaan holding sepanjang 10 kilometer, minor jalan 3 kilometer, rekonstruksi jalan 0,1 kilometer, penanganan drainase 0,056 meter, rehabilitasi jembatan 11,3 meter serta pemeliharaan berkala jembatan sepanjang 182,1 meter.

Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh PT Karyabaru Makmur sebagai kontraktor pelaksana.

Kondisi Banjir Jalan Nasional Ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli

Banjir Sempat Menguji Lapangan

Tantangan pekerjaan tidak hanya datang dari persoalan material dan operasional. Banjir yang terjadi di sejumlah titik juga sempat membawa material debris hingga menutup sebagian badan jalan.

Situasi tersebut menuntut respons cepat karena ruas Tinombo-Toboli merupakan salah satu jalur penting bagi mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

Jalan Nasional Ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli

Tim lapangan kemudian melakukan pembersihan material banjir di tujuh titik terdampak.

Tak berhenti di situ, untuk menjaga konektivitas masyarakat, dilakukan pula pemasangan Jembatan Bailey di Desa Peningka sebagai solusi sementara agar akses kendaraan tetap berjalan.

Nurhasna memastikan kondisi pascabanjir tersebut tidak mengganggu pekerjaan utama dalam paket kontrak.

“Secara umum, dampak pascabanjir tersebut tidak mempengaruhi pekerjaan paket kontrak,” katanya.

Kondisi Banjir Jalan Nasional Ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli

Artinya, penanganan banjir dilakukan bersamaan dengan pekerjaan utama, sehingga gangguan terhadap pelaksanaan proyek dapat diminimalkan.

Aspal Langka, BBM Terbatas, Pekerjaan Tetap Jalan

Di balik progres 61,90 persen, terdapat tantangan lain yang tak kalah serius, yakni persoalan rantai pasok.

Ketersediaan BBM sempat menjadi kendala operasional. Di sisi lain, pasokan aspal di pasaran juga mengalami keterbatasan.

Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi mobilisasi alat berat maupun pelaksanaan sejumlah pekerjaan yang membutuhkan material aspal.

Namun pekerjaan tetap bergerak.

Kontraktor melakukan pengaturan pasokan dan strategi pelaksanaan agar pekerjaan di lapangan tetap dapat berjalan. Sejumlah aktivitas seperti holding, rehabilitasi minor, patching dan penataan drainase tetap dilaksanakan.

Hasilnya, ketika progres fisik berada di angka 61,90 persen, posisi pekerjaan masih mencatat deviasi positif 2,48 persen terhadap target.

Bukan Sekadar Mengejar Angka

Progres proyek memang menjadi indikator penting. Namun bagi pengguna jalan, ukuran keberhasilan pekerjaan tentu tidak berhenti pada angka persentase.

Masyarakat membutuhkan jalan yang aman, nyaman dan tetap dapat digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Karena itu, pekerjaan preservasi Jalan Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli diarahkan tidak hanya untuk menyelesaikan kontrak, tetapi juga menjaga fungsi jalan nasional selama proses pekerjaan berlangsung.

Targetnya jelas.

Paket pekerjaan tersebut ditargetkan mencapai Provisional Hand Over (PHO) pada 31 Desember 2026.

Dengan progres 61,90 persen hingga Oktober dan deviasi positif 2,48 persen, pekerjaan selanjutnya akan diarahkan pada penyelesaian item-item yang masih tersisa.

Fokus utama berada pada pelebaran Segmen 1 Ampibabo-Sinei dan Segmen 2 Tinombo-Sinei, disertai penyelesaian rehabilitasi jembatan, pemeliharaan jalan, drainase serta pekerjaan pendukung lainnya.

Target Akhir Tahun Jadi Pertaruhan

Bagi masyarakat Parigi Moutong dan pengguna jalur Tinombo-Toboli, pekerjaan ini bukan sekadar proyek dengan angka progres di atas kertas.

Jalan tersebut merupakan bagian penting dari konektivitas antarwilayah sekaligus jalur pergerakan orang dan distribusi ekonomi.

Karena itu, penyelesaian pekerjaan tepat waktu menjadi harapan besar, Nurhasna berharap seluruh pekerjaan dapat dituntaskan sesuai target tanpa melewati tahun anggaran.

“Harapan saya, pekerjaan ini dapat segera terselesaikan tanpa menyeberang tahun, agar dapat segera memberi manfaat yang maksimal bagi seluruh pengguna jalan,” ujar Nurhasna.

Jika target tersebut tercapai, pekerjaan Jalan Tinombo-Toboli 2026 tidak hanya akan meninggalkan catatan progres fisik.

Lebih jauh, hasil akhirnya diharapkan mampu memperkuat kualitas layanan Jalan Nasional Sulawesi Tengah, sekaligus menjaga ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli tetap menjadi jalur vital bagi mobilitas masyarakat dan denyut ekonomi Parigi Moutong. ***