Ayunindya Shaqilla Bawa Pulang Perak untuk Sulteng di International Pugnator Open Taekwondo Banten 2026

BANTEN, BERANTAS.ID — Atlet muda Sulawesi Tengah asal Kota Palu, Ayunindya Shaqilla, menorehkan prestasi membanggakan pada ajang International Pugnator Open Taekwondo Grandslam Youth Festival Banten 2026.

Mewakili SD Unggulan Putra Kaili Permata Bangsa, Shaqilla sukses meraih medali perak setelah melewati persaingan ketat di kategori Poomsae Prestasi Female Individual.

Dalam kejuaraan tersebut, Shaqilla didampingi dua pelatih, yakni Sanim Felky Lee dan Sanim I Kadek Dwi Payana. Keduanya secara intensif mendampingi proses persiapan jauh sebelum Shaqilla bertanding di Banten.

Kejuaraan tersebut mempertemukan atlet-atlet muda dari berbagai klub dan daerah dengan persaingan yang cukup kompetitif.

Berdasarkan bagan pertandingan, Ayunindya Shaqilla tercatat sebagai peserta kelas C3205 – Poomsae Prestasi Female Individual, kategori Cadet kelahiran 2012–2014, dengan nomor Taegeuk 4 sampai Koryo. Shaqilla berada di Ring 7 pada Day 1 dan masuk dalam bagan utama bersama sejumlah atlet dari berbagai klub Taekwondo.

Perjalanan Shaqilla hingga meraih medali perak bukan perkara mudah. Ia harus melewati sejumlah pertandingan dan menghadapi atlet-atlet dengan pengalaman kompetitif yang kuat.

Salah satu tantangan terbesar datang ketika Shaqilla harus berhadapan dengan atlet nasional yang baru kembali dari kejuaraan di Korea Selatan. Bahkan, menurut pelatih, atlet tersebut memiliki usia sekitar tiga hingga empat tahun lebih tua dibandingkan Shaqilla.

“Senang, bahagia dan terharu,” ujar Shaqilla menggambarkan perasaannya setelah berhasil membawa pulang medali perak.

Ia mengaku perjalanan pertandingan tersebut sangat menguras tenaga dan pikiran. Namun, persiapan panjang yang dilakukan selama kurang lebih tiga bulan menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan.

“Prosesnya begitu menguras tenaga dan pikiran. Target saya adalah bisa melewati semua tantangan dan bisa membawa medali,” katanya.

Persiapan Tiga Bulan, Latihan Empat Jam Sehari

Pencapaian Shaqilla tidak datang secara instan. Selama kurang lebih tiga bulan sebelum kejuaraan, ia menjalani program latihan secara intensif.

Pelatih menyebut perkembangan Shaqilla terlihat signifikan dalam tiga bulan terakhir. Latihan tidak hanya difokuskan pada teknik, tetapi juga kekuatan fisik dan kesiapan menghadapi pertandingan.

“Progres latihan tiga bulan terakhir sangat terlihat berkat kerja keras, mulai dari latihan fisik dan latihan teknik sekitar empat jam sehari,” ungkap pelatih.

Menurutnya, Shaqilla juga mampu menjalani seluruh program latihan meski usianya masih tergolong sangat muda.

“Di usianya saat ini, Shaqilla tergolong tangguh dan bisa melewati semua program dari pelatih,” ujarnya.

Mampu Kalahkan Atlet Nasional

Penampilan Shaqilla mendapat apresiasi dari tim pelatih. Salah satu catatan penting dalam perjalanan pertandingan tersebut adalah keberhasilannya mengalahkan atlet nasional yang baru pulang dari kejuaraan di Korea pada babak semifinal.

Tidak hanya itu, Shaqilla juga menghadapi atlet-atlet binaan pelatih nasional pada babak penyisihan hingga perempat final.

“Penampilan kali ini sangat luar biasa. Shaqilla mengalahkan atlet nasional yang baru pulang dari kejuaraan dunia di Korea di semifinal, serta atlet-atlet binaan pelatih nasional pada penyisihan dan quarterfinal,” jelas pelatih.

Pencapaian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Shaqilla untuk menghadapi persaingan yang lebih tinggi di masa mendatang.

Masih Evaluasi Kuda-Kuda

Meski berhasil mencapai final dan membawa pulang medali perak, tim pelatih tetap melakukan evaluasi. Salah satu aspek yang masih perlu diperbaiki adalah kuda-kuda.

Pelatih menjelaskan, perbedaan usia dan postur kompetitif dengan lawan menjadi salah satu tantangan. Shaqilla yang masih muda berusaha menunjukkan power dan ujung gerakan secara maksimal, tetapi hal tersebut terkadang memengaruhi kestabilan kuda-kudanya.

“Dengan umur yang sangat muda dan jauh di bawah lawan tiga sampai empat tahun, Shaqilla memaksakan untuk memperlihatkan power dan ujung gerakan yang maksimal. Sehingga memengaruhi kuda-kuda yang menjadi kelemahannya,” katanya.

Evaluasi tersebut akan segera diperbaiki melalui program latihan berikutnya sebagai persiapan menghadapi event yang lebih besar.

Orang Tua: Medali Bukan Target Utama

Di balik prestasi tersebut, terdapat dukungan penuh dari keluarga. Orang tua Shaqilla mengaku bahagia dan bangga melihat perjuangan putrinya.“Perasaan tentunya bahagia dan bangga,” ungkap orang tua Shaqilla.

Menurut keluarga, perjalanan Shaqilla menjadi atlet tidaklah mudah. Ia harus membagi waktu antara sekolah dan latihan, bahkan mengurangi waktu bermain.

“Perjalanannya begitu berat tanpa ada waktu bermain. Yang ada sekolah dan latihan,” tuturnya.

Keluarga juga berusaha memenuhi kebutuhan Shaqilla selama menjalani latihan. Dukungan tersebut diberikan bersama guru, pelatih, keluarga besar Taekwondo Dragon Club (TDC) dan teman-temannya.

Menariknya, bagi keluarga, medali perak bukanlah target utama.

“Medali perak bukan target dari kami selaku orang tua, tetapi kami bersyukur atas apa yang diperoleh Ayunindya Shaqilla,” kata keluarga.

Target Berikutnya Lebih Tinggi

Shaqilla tidak ingin berhenti pada pencapaian medali perak. Ia bertekad meningkatkan kualitas latihan dan memperbaiki kekurangan yang masih ada.

“Lebih giat dan semangat lagi latihannya. Saya akan berlatih lebih keras lagi,” tegasnya.

Pelatih juga berharap pengalaman di Banten menjadi modal penting bagi perjalanan prestasi Shaqilla ke depan. Bahkan, terdapat harapan agar Shaqilla suatu saat dapat masuk dalam jajaran tim elit Indonesia.

“Dari kejuaraan ini, saya berharap ke depan akan lebih baik dan menjadi modal besar untuk prestasi besar Shaqilla dan terpilih menjadi tim elit Indonesia suatu saat nanti,” ujarnya.

Namun, menurut pelatih, prestasi harus berjalan beriringan dengan karakter.

“Harapan saya sebagai pelatih, saya ingin Shaqilla tetap konsisten dan tetap rendah hati kepada siapapun,” pesannya.

Sementara keluarga berharap Shaqilla terus berkembang hingga mampu membawa nama Sulawesi Tengah, bahkan Indonesia, pada kejuaraan yang lebih besar.

“Kami selalu berdoa dan memberikan dukungan agar Ayunindya bisa mewakili Sulteng dan mengharumkan Indonesia,” ungkap orang tuanya.

Shaqilla pun menitipkan pesan kepada atlet-atlet muda lainnya agar tidak mudah menyerah dalam mengejar prestasi.

“Jangan mudah menyerah, terus berproses, konsisten dan semangat. Kalian pasti bisa,” pungkasnya.

Identitas Atlet:

– Nama: Ayunindya Shaqilla

– Asal: Kota Palu, Sulawesi Tengah

– Sekolah: SD Unggulan Putra Kaili Permata Bangsa

– Pelatih: Sanim Felky Lee dan Sanim I Kadek Dwi Payana

– Prestasi: Medali Perak – Poomsae Prestasi Female Individual

– Ajang: International Pugnator Open Taekwondo Grandslam Youth Festival Banten 2026.

– Dojang : Tarkwondo Dragon Club Sulteng. (Tony)