Berantas.id, Morowali – Kualitas pengerjaan proyek bronjong di jembatan Sungai Reko – Reko di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah pasca selesai kini sangat diragukan usianya.
Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar yang diterima Tim Berantas.id, bahwa kondisi bangunan bronjong tersebut mulai terlihat miring bahkan ada yang sudah amblas, diduga karena menggunakan kawat anyaman manual dengan ukuran lingkaran diatas dari 7 Centimeter, kemudian tampak juga pada material batu yang digunakan sangat kecil, warna batunyapun bervariasi dan mudah dikeluarkan dari lingkaran kawat beronjong, mungkin itu dugaan penyebabnya sehingga pondasi dasar bronjong terlihat’ sudah miring kedasar sungai, ucap warga.
“Padahal proyek bronjong di jembatan Sungai Reko – Reko itu baru saja beberapa bulan dikerjakan oleh pihak kontraktor (rekanan-red) , namun kami menduga bahwa kualitas pengerjaan proyek tersebut diragukan dan pondasi dasar bronjong juga diduga tidak kuat sistem penguncian kawat sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan, sehingga sebagian kawat bronjong terlepas, miring dan amblas kedasar sungai”ujar sumber media ini, Selasa (02/2/2022).
Selain itu, warga setempat pun menilai proyek yang menelan biaya ratusan juta rupiah tersebut pengerjaannya diduga tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) serta spesifikasi teknis.
Sedangkan berdasarkan penelusuran Tim Media Online Berantas.id beberapa waktu lalu ke lokasi proyek, tampak terlihat kawat bronjong yang sudah diisi dengan material batu kecil sudah mulai miring ke bawah, bahkan sebagian kawat bronjong sudah putus dan tampak pula material batunya tidak terbungkus dengan ikatan kawat beronjong.
Dan bukan hanya itu, material batu yang sudah dimasukkan ke dalam kawat beronjong sebagian besarnya itu berukuran sangat kecil dan mudah dikeluarkan dari lingkaran kawat Bronjong.
Kemudian lebih parahnya lagi, kawat tersebut banyak yang tidak dikunci dengan span, pengisian batu tidak padat, sehingga sangat rentan bergeser jika air sungai deras.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Redaksi Berantas.id bahwa pengerjaan proyek tersebut diduga dikerjakan oleh PT. Elim Jaya Pratama yang beralamatkan di Jalan RE. Martadinata Nomer 63. Luwuk Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan total anggaran yang dikelola dalam Preservasi Jalan Beteleme – Tompira – Kolonodale – Tompira – Bahonsuai – Bungku senilai Kontrak Rp. 13.056.878.000,00-, dari APBN ( Anggaran Pendapatan Belanja Negara ).
GM (General manager) PT. Elim Jaya Pratama yang dikonfirmasi Via aplikasi Whatsapp menampik bahwa, Maaf yang kami tangani hanya panjang kurang lebih 18 Meter dari jembatan kearah hilir, dan bronjong selanjutnya bukan tidak masuk dalam kontrak kami, tks. tutupnya. (tim)











