Dukung Hilirisasi Nikel, BPJN Sulteng Perkuat Konektivitas Kawasan Industri Lewat Skema KSPU

BERANTAS.ID, SULAWESI TENGAH — Pemerintah terus memperkuat infrastruktur pendukung hilirisasi nikel di Sulawesi Tengah. Salah satunya melalui penguatan jaringan jalan nasional yang menjadi akses utama menuju kawasan industri di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.

Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah mengoptimalkan skema Kegiatan Strategis Pusat Unggulan (KSPU) untuk menangani sejumlah ruas jalan yang memiliki peran penting terhadap mobilitas masyarakat sekaligus distribusi logistik industri.

Melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah IV, BPJN Sulteng melakukan peningkatan sejumlah ruas menggunakan konstruksi beton rigid. Penanganan tersebut berada di bawah PPK 4.3 Provinsi Sulawesi Tengah dengan sasaran meningkatkan ketahanan jalan terhadap beban kendaraan berat yang melintas di kawasan industri.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.3 Provinsi Sulawesi Tengah, Stenly Arthur Massie, ST., menjelaskan bahwa skema KSPU diarahkan untuk menjawab kebutuhan infrastruktur pada kawasan yang memiliki aktivitas ekonomi dan industri strategis.

“KSPU ini menjadi salah satu upaya untuk memastikan konektivitas kawasan industri tetap terjaga, khususnya terhadap kebutuhan mobilitas kendaraan dengan beban berat,” ujar Stenly kepada Trilogi, Minggu (27/9/2026).

Salah satu pekerjaan yang ditangani melalui skema tersebut adalah peningkatan Jalan Ruas Tompira–Keuno sepanjang 848 meter.

Ruas tersebut dibangun menggunakan konstruksi beton rigid dengan mutu Fs 4,5, lebar enam meter dan ketebalan 25 sentimeter. Nilai pekerjaan mencapai sekitar Rp7,1 miliar.

Menurut Stenly, ruas Tompira–Keuno memiliki fungsi penting karena menjadi salah satu jalur pergerakan logistik yang berkaitan dengan aktivitas sejumlah perusahaan industri, di antaranya PT SEI, PT GNI, PT NNI dan PT Bumanik.

“Kami menggunakan desain beton rigid dengan mutu Fs 4.5 (Flexural Strength), berketebalan 25 sentimeter dan lebar enam meter,” jelasnya.

Pemilihan konstruksi beton rigid tersebut disesuaikan dengan karakteristik lalu lintas pada kawasan industri yang didominasi kendaraan dengan beban relatif besar.

Selain Tompira–Keuno, skema KSPU juga mencakup peningkatan Jalan Bahonsuai–Bungku sepanjang 331 meter. Ruas tersebut memiliki lebar enam meter dan ketebalan beton 25 sentimeter dengan mutu Fs 4,5.

Nilai pekerjaan pada ruas tersebut sekitar Rp1,2 miliar dan menjadi bagian dari penguatan akses menuju kawasan industri PT BTIIG.

Penanganan infrastruktur juga dilengkapi dengan pembangunan sistem drainase. Salah satunya berupa cross drain Box Culvert Desa Tondo berukuran 1,5 x 1,5 x 11 meter.

Keberadaan sistem drainase tersebut diarahkan untuk memperlancar aliran air sekaligus mengurangi potensi genangan yang dapat mengganggu fungsi dan umur layanan jalan.

Sementara itu, KSPU PPK 4.3 Sulteng juga mencakup penanganan Ruas Keuno–Bahonsuai sepanjang 100 meter. Pekerjaan yang dilaksanakan PT Alaska tersebut telah mencapai progres fisik sekitar 90 persen dan memasuki tahap akhir penyelesaian.

Perkuat Rantai Pasok Industri

Penanganan sejumlah ruas tersebut memperlihatkan pendekatan berbasis kawasan dalam pembangunan infrastruktur jalan.

Peningkatan struktur badan jalan, penggunaan beton rigid serta pembangunan drainase dirancang untuk mendukung kebutuhan konektivitas pada kawasan dengan aktivitas industri dan logistik yang tinggi.

Karakteristik lalu lintas di kawasan industri Morowali dan Morowali Utara memiliki tantangan tersendiri. Selain digunakan masyarakat, ruas jalan tersebut menjadi jalur kendaraan logistik yang memasok kebutuhan industri maupun mengangkut hasil produksi.

Karena itu, keandalan infrastruktur jalan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok industri.

Penguatan jalan melalui skema KSPU diharapkan dapat mendukung konektivitas kawasan industri, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan PT GNI di Morowali serta kawasan industri PT BTIIG.

Dalam konteks pembangunan nasional, penguatan infrastruktur jalan di kawasan industri Sulawesi Tengah juga memiliki keterkaitan dengan agenda hilirisasi sumber daya mineral.

Ketersediaan infrastruktur yang memadai dibutuhkan agar aktivitas produksi, distribusi bahan baku, mobilitas pekerja dan pengangkutan hasil industri dapat berlangsung secara lebih efektif.

Melalui pendekatan KSPU, penanganan jalan tidak hanya diarahkan pada capaian panjang pekerjaan, tetapi juga mempertimbangkan fungsi strategis ruas yang ditangani terhadap konektivitas kawasan, aktivitas ekonomi dan distribusi logistik.

Penguatan Jalan Tompira–Keuno, Bahonsuai–Bungku dan Keuno–Bahonsuai menjadi bagian dari upaya tersebut.

Dengan infrastruktur yang lebih kuat dan dukungan sistem drainase, BPJN Sulawesi Tengah berupaya meningkatkan keandalan jaringan jalan nasional sekaligus menjaga konektivitas masyarakat di sekitar kawasan industri.

Langkah tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari dukungan infrastruktur terhadap pengembangan kawasan industri dan percepatan hilirisasi nikel di Sulawesi Tengah.***