BERANTAS.ID, SIGI — Upaya memperkuat perlindungan kawasan rawan banjir di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, memasuki babak baru. Proyek Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Gumbasa di Desa Pakuli Utara resmi rampung dan telah menjalani Serah Terima Pertama atau Provisional Hand Over (PHO) pada 7 September 2026.
Pekerjaan yang dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu bersama PT Bukaka Pasir Indah tersebut bahkan dapat diselesaikan sebelum masa kontrak berakhir.
Proyek ini merupakan bagian dari Paket Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Gumbasa Kabupaten Sigi (Lanjutan) Tahun Anggaran 2026. Kehadirannya diarahkan untuk memperkuat tebing sungai sekaligus mengurangi risiko kerusakan akibat peningkatan debit dan derasnya arus Sungai Gumbasa.
General Superintendent PT Bukaka Pasir Indah, Lucky, mengatakan pekerjaan penanganan mencakup struktur sepanjang sekitar 568 meter di wilayah Desa Pakuli Utara.
“Pekerjaan penanganan ini mencakup panjang struktur hingga 568 meter di Desa Pakuli Utara,” ujar Lucky dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Minggu (27/9/2026).
Secara teknis, konstruksi pengaman tersebut memiliki output sekitar 0,45 kilometer. Pekerjaan mencakup penguatan dinding tebing dengan ketinggian sekitar lima meter serta penguatan lereng hingga sembilan meter.
Material batu boulder sungai digunakan sebagai salah satu material utama dalam pembangunan struktur pengaman tebing. Kebutuhan material yang mencapai puluhan ribu meter kubik membuat proses pengadaan, mobilisasi dan penataan material menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek.
Terlebih, konstruksi dilakukan di sepanjang aliran Sungai Gumbasa yang memiliki karakteristik dinamis. Kondisi tersebut menuntut pelaksana menerapkan manajemen risiko dan pengaturan logistik secara ketat.
Efisiensi Anggaran 10 Persen
Selain rampung lebih cepat, proyek pengendali banjir ini juga mencatat efisiensi anggaran sekitar 10 persen dari rencana awal.
Efisiensi dilakukan melalui pendekatan value engineering, yakni optimalisasi metode dan pelaksanaan pekerjaan dengan tetap mempertahankan spesifikasi teknis serta kualitas konstruksi.
Dengan demikian, efisiensi tidak dilakukan dengan memangkas kualitas material utama maupun mengurangi fungsi struktur pengaman yang dibangun.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek infrastruktur, terutama di tengah tuntutan pemerintah untuk memastikan setiap anggaran pembangunan memberikan manfaat maksimal.
Lindungi 5 Hektare Lahan
Manfaat proyek tidak hanya diukur dari panjang struktur yang dibangun. Sedikitnya lima hektare lahan potensial di sekitar kawasan permukiman Desa Pakuli Utara diharapkan mendapatkan perlindungan lebih baik dari ancaman luapan Sungai Gumbasa.
Selama ini, peningkatan debit sungai berpotensi menyebabkan luapan yang berdampak terhadap lahan dan aktivitas masyarakat di sekitar bantaran sungai.
Dengan diperkuatnya struktur tebing, risiko kerusakan akibat gerusan maupun luapan sungai diharapkan dapat ditekan.
Perlindungan terhadap kawasan tersebut juga memiliki arti penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada lahan di sekitar wilayah sungai.
Bukan Sekadar Rampung
Penyelesaian pekerjaan menjadi capaian fisik tersendiri. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan struktur pengendali banjir tersebut mampu menjalankan fungsinya secara optimal dalam menghadapi perubahan debit Sungai Gumbasa.
Bagi Kabupaten Sigi, infrastruktur pengendali banjir menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.
Efisiensi anggaran sekitar 10 persen sekaligus percepatan penyelesaian pekerjaan menjadi catatan penting dalam proyek tersebut. Namun, keberhasilan akhirnya tetap akan ditentukan oleh kemampuan infrastruktur memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat dan lahan yang berada di kawasan rawan banjir.
Dengan rampungnya pekerjaan di Desa Pakuli Utara, sistem perlindungan kawasan sekitar Sungai Gumbasa kini semakin diperkuat. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi permukiman, lahan produktif dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.***
