Berantas.id, Palu — Pembangunan infrastruktur strategis melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi (Rehab Rekon) di Kota Palu terus menunjukkan kemajuan signifikan. Salah satunya adalah proyek elevated road pada ruas Jalan Rajawamoili–Cut Mutia, yang hingga pertengahan Januari 2026 telah mencatatkan progres fisik sebesar 95,489 persen dan tetap berjalan sesuai target.
Saat ini, sisa pekerjaan difokuskan pada penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari pengembangan kawasan terintegrasi di sekitar jalan layang. Penyelesaian penataan tersebut ditargetkan rampung pada 31 Januari 2026, tanpa adanya perubahan lingkup pekerjaan.
Dari sisi pelaksanaan di lapangan, kondisi proyek masih terkendali. Tantangan utama yang dihadapi dalam beberapa waktu terakhir adalah cuaca ekstrem, yang berdampak pada ritme pekerjaan. Meski demikian, kendala tersebut tidak memengaruhi target akhir penyelesaian proyek.
“Capaian di lapangan masih sesuai dengan rencana. Faktor cuaca ekstrem memang menjadi tantangan utama, namun masih dapat dikelola sehingga tidak mengganggu target penyelesaian,” tambahnya.
Paket A1 Kota Palu dibiayai melalui skema Infrastructure Reconstruction Sector Loan (IRSL), hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Pelaksanaan konstruksi proyek ini dilaksanakan oleh PT Bumi Duta Persada berdasarkan kontrak Nomor HK.02.01/IRSL-A1/Bb14.6.5/01.
Dari aspek teknis, desain elevated road Rajawamoili–Cut Mutia mengedepankan peninggian badan jalan setinggi 3 hingga 4 meter. Konsep ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas lalu lintas, tetapi juga memperkuat fungsi mitigasi bencana, terutama terhadap potensi tsunami dan pergerakan tanah di kawasan pesisir Kota Palu.
Sejumlah elemen teknis unggulan diterapkan pada segmen ini, antara lain penggunaan blok beton, penataan RTH, serta pembangunan elemen ikon kawasan berupa patung kuda. Selain itu, proyek ini mengadopsi dua metode utama perlindungan infrastruktur, yakni Toe Protection dan Retaining Wall.
Toe Protection diterapkan pada area yang memiliki ketersediaan lahan memadai dengan memanfaatkan block armor sebagai peredam energi gelombang laut. Sementara itu, Retaining Wall dibangun di lokasi dengan keterbatasan ruang untuk menjaga stabilitas struktur jalan layang, khususnya di wilayah yang rawan pergeseran tanah akibat gempa.
Dengan pendekatan teknis yang komprehensif, elevated road Rajawamoili–Cut Mutia diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengurai kemacetan lalu lintas, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta meningkatkan ketahanan infrastruktur perkotaan di Kota Palu.
Menjelang tahap akhir pelaksanaan, pemerintah memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai rencana awal. Fokus penyelesaian kini diarahkan pada penyempurnaan kawasan pendukung agar infrastruktur jalan layang ini dapat segera dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan memberikan dampak berkelanjutan bagi pembangunan wilayah. ***
