BERANTAS.ID, PALU – Ratusan massa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sulteng Bersatu menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Sulawesi Tengah, Jalan Suprapto, Kota Palu, Senin (9/3/2026) sore.
Massa tiba sekitar pukul 15.10 WITA dengan menggunakan kendaraan roda dua serta satu unit mobil komando yang dilengkapi pengeras suara. Dalam aksinya, mereka menyampaikan sejumlah tuntutan, salah satunya mendesak agar pimpinan Kantor Perwakilan Komnas HAM Sulteng dievaluasi.
Koordinator lapangan aksi, Amier Sidik, dalam orasinya menyampaikan sejumlah kritik terhadap kinerja lembaga tersebut, khususnya terkait sikap yang selama ini disampaikan terkait aktivitas pertambangan rakyat di Sulawesi Tengah.
Menurut Amier, pihaknya meminta agar berbagai tudingan yang beredar di masyarakat terkait dugaan keterlibatan oknum dalam aktivitas pertambangan dapat dijelaskan secara terbuka.
“Kami meminta agar semua isu yang berkembang di masyarakat dapat dijelaskan secara transparan sehingga tidak menimbulkan polemik berkepanjangan,” ujar Amier dalam orasinya.
Selama aksi berlangsung, massa juga menyampaikan kritik melalui berbagai bentuk aksi simbolik. Beberapa demonstran terlihat membakar ban bekas serta melempar tomat busuk dan telur ke arah halaman kantor.
Situasi sempat memanas ketika massa aksi menilai tidak ada perwakilan yang menemui mereka untuk memberikan penjelasan secara langsung. Hal tersebut memicu kekecewaan sebagian peserta aksi.
Selain menyampaikan orasi, massa juga melakukan aksi simbolik dengan memasang palang kayu di depan kantor serta menuliskan sejumlah pesan di dinding menggunakan cat semprot.
Dalam pernyataan lain, salah satu orator, Imam Safa’at, menyampaikan bahwa pihaknya berharap Komnas HAM dapat lebih fokus pada berbagai persoalan kemanusiaan di Sulawesi Tengah, termasuk isu warga korban bencana yang hingga kini masih tinggal di hunian sementara.
“Ada banyak persoalan kemanusiaan di daerah ini yang menurut kami perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya.
Aksi demonstrasi tersebut berlangsung sekitar satu jam sebelum massa akhirnya membubarkan diri secara bertahap.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulawesi Tengah, Livand Breemer, yang ditemui wartawan setelah massa aksi membubarkan diri, menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam aktivitas pertambangan ilegal seperti yang ditudingkan oleh sebagian pihak.
Ia menyatakan siap apabila tudingan tersebut diuji secara hukum. “Jika ada yang menduga, silakan dibuktikan dengan data dan fakta. Saya tidak pernah terlibat dalam aktivitas tambang ilegal,” ujarnya.
Livand juga menjelaskan bahwa sejumlah isu yang berkembang di masyarakat perlu dilihat secara objektif dan tidak hanya berdasarkan dugaan.
Ia menambahkan bahwa aksi demonstrasi merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang wajar terjadi dalam kehidupan berbangsa.
“Tentu kami menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat,” katanya.
Terkait aksi penyegelan kantor oleh massa, Livand mengatakan bahwa aktivitas pelayanan di kantor Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah tetap akan berjalan seperti biasa.“Kami tetap bekerja dan melaksanakan tugas seperti biasa,” pungkasnya. ***







