BERANTAS.ID, SIGI — Upaya pemulihan pascabencana di Sungai Kamarora, Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, terus dilakukan melalui penanganan darurat yang menyasar sejumlah infrastruktur vital masyarakat.
Melalui dukungan teknis Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu, penanganan difokuskan pada pengembalian fungsi aliran sungai, pengendalian dampak banjir, serta perlindungan kawasan permukiman dan lahan pertanian warga yang terdampak material longsoran dari kawasan hulu.
Rangkaian pekerjaan tersebut dilakukan setelah gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026. Bencana tersebut kemudian diperparah oleh curah hujan tinggi pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 yang memicu pergerakan material longsoran di kawasan hulu Sungai Kamarora.
Material longsoran yang menutup sebagian aliran sungai membentuk genangan alami dan kemudian terbawa arus banjir menuju wilayah hilir. Kondisi itu menyebabkan gangguan terhadap jaringan air bersih, bangunan bendung irigasi, serta mengancam area persawahan dan permukiman masyarakat di Desa Kamarora A dan Kamarora B.
Sebagai langkah penanganan, dilakukan normalisasi alur Sungai Kamarora sepanjang 1,4 kilometer. Pekerjaan tersebut mencakup pengangkatan sedimen dan material yang menutup badan sungai, termasuk pada kawasan sekitar jembatan desa hingga area persawahan.
Material hasil normalisasi kemudian dimanfaatkan kembali untuk membentuk tanggul perlindungan di sejumlah titik rawan. Konsep tersebut dilakukan agar penanganan tidak hanya membersihkan aliran sungai, tetapi juga memperkuat sistem perlindungan terhadap kawasan sekitar.
Di sekitar hulu bendung irigasi desa, material hasil galian digunakan untuk membangun tanggul dengan panjang 17 meter dan tinggi sekitar 1,1 meter. Selain itu, penguatan sisi sungai juga dilakukan melalui pembangunan tanggul kiri dan kanan menuju kawasan jembatan desa.
Berdasarkan data teknis penanganan, tanggul sisi kiri memiliki panjang sekitar 223 meter dengan lebar atas 5,5 meter dan tinggi 4,9 meter. Sementara tanggul sisi kanan memiliki panjang 207 meter, lebar atas 5 meter dan tinggi mencapai 4 meter.
Selain pekerjaan normalisasi dan tanggul, penguatan tebing sungai juga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi risiko bencana. Perkuatan dilakukan menggunakan konstruksi bronjong sepanjang 150 meter pada area yang berdekatan dengan permukiman warga.
Konstruksi bronjong tersebut disusun dalam enam lapisan dengan total ketinggian sekitar 2,5 meter. Lapisan dasar berfungsi sebagai pondasi yang sejajar dengan dasar sungai, sementara lapisan berikutnya memperkuat struktur tebing dari ancaman gerusan akibat peningkatan debit air.
Penanganan kemudian dilanjutkan ke bagian hilir Jembatan Desa Kamarora sepanjang 750 meter. Pada lokasi tersebut, kondisi dasar sungai pascabencana mengalami pendangkalan hingga sejajar dengan area persawahan.
Untuk mengurangi risiko luapan air ke lahan pertanian, dilakukan pengerukan kembali alur sungai serta pembangunan tanggul perlindungan di sisi kiri dan kanan sungai.
Tanggul tersebut dirancang dengan dimensi lebar atas 5 meter, lebar bawah 12 meter dan tinggi sekitar 4,2 meter, sehingga diharapkan mampu menjaga stabilitas aliran sungai sekaligus melindungi areal persawahan masyarakat.
Tidak hanya menangani badan sungai, pemulihan juga menyasar infrastruktur dasar masyarakat. Di kawasan hulu, dilakukan perbaikan jaringan air bersih yang terdampak akibat gempa dan banjir.
Pekerjaan tersebut meliputi pemasangan sembilan batang pipa PVC serta penempatan 50 unit sandbag sebagai bagian dari pengamanan sementara di kawasan hulu Sungai Kamarora.
Melalui rangkaian pekerjaan tersebut, penanganan Sungai Kamarora menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana yang tidak hanya berorientasi pada perbaikan fisik, tetapi juga memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat.
Normalisasi sungai, pembangunan tanggul, penguatan tebing bronjong, hingga pemulihan jaringan air bersih diharapkan mampu mengembalikan fungsi Sungai Kamarora sekaligus memperkuat ketahanan wilayah terhadap potensi bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
Saya buatkan dengan gaya advertorial media pemerintah/BWS: lebih humanis, menonjolkan manfaat pekerjaan, tetapi tetap mempertahankan data teknis agar kuat untuk publikasi. ***
