Jalan Nasional Pagimana–Batui Kian Mantap, Progres Proyek Mendekati 50 Persen

BERANTAS.ID, BANGGAI – Upaya pemerintah menjaga kemantapan infrastruktur transportasi di Sulawesi Tengah terus menunjukkan hasil positif. Proyek Preservasi Jalan Nasional Pagimana–Batui yang menjadi salah satu jalur strategis penghubung kawasan timur Sulawesi kini telah mencatat progres fisik sebesar 48,43 persen dan masih berjalan sesuai target kontrak.

Paket pekerjaan senilai Rp9,27 miliar yang dikerjakan CV Tanjung Lautan Api tersebut ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026. Hingga awal Juni, pelaksanaan pekerjaan masih berada dalam koridor jadwal yang telah ditetapkan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Sulawesi Tengah, Ibrahim Tjane, mengatakan percepatan pekerjaan terus dilakukan untuk memastikan kualitas layanan jalan nasional tetap terjaga sekaligus mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di wilayah tersebut.

“Progres fisik saat ini mencapai 48,43 persen dan masih sesuai jadwal kontrak,” kata Ibrahim.

Dalam paket preservasi ini, penanganan dilakukan pada ruas sepanjang 128,40 kilometer. Salah satu pekerjaan utama berupa pelapisan ulang perkerasan menggunakan Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC Asbuton) telah mencapai 1,4 kilometer dari target 1,6 kilometer.

Selain itu, pekerjaan sandsheet sepanjang 800 meter telah selesai 100 persen. Capaian tersebut menjadi indikator positif dalam menjaga kualitas dan kenyamanan layanan jalan nasional yang menghubungkan sejumlah pusat aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Banggai.

Tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas perkerasan jalan, proyek ini juga mencakup berbagai pekerjaan penunjang lainnya, seperti penanganan titik longsoran, rehabilitasi minor, pemeliharaan rutin kondisi jalan, holding, hingga pekerjaan berkala pada jembatan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga tingkat kemantapan jalan nasional sekaligus memastikan konektivitas antarwilayah tetap berjalan optimal.

Aspek keselamatan pengguna jalan juga menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan proyek. Pada sejumlah titik rawan longsor di sepanjang koridor Pagimana–Batui, telah dipasang rambu dan baliho peringatan guna memberikan informasi dini kepada pengguna jalan, terutama saat musim hujan.

Keberadaan fasilitas keselamatan tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat ketika melintasi kawasan dengan potensi gerakan tanah.

Menurut Ibrahim, hingga saat ini tantangan utama yang dihadapi di lapangan berasal dari faktor cuaca. Intensitas hujan yang mulai turun pada sore hari kerap mempengaruhi waktu efektif pelaksanaan pekerjaan.

“Alhamdulillah kendala selama ini hanya di cuaca, karena biasanya sore hari mulai turun hujan,” ujarnya.

Koridor Pagimana–Batui merupakan salah satu ruas penting dalam jaringan Jalan Nasional di Sulawesi Tengah. Jalur ini berperan mendukung pergerakan orang dan barang, sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah yang menjadi kunci pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan capaian pekerjaan yang telah mendekati separuh target dan sejumlah item utama yang hampir tuntas, proyek preservasi ini diyakini dapat selesai sesuai jadwal. Kehadirannya diharapkan semakin memperkuat konektivitas kawasan, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang koridor strategis Pagimana–Batui. ***