Berantas.id, BUOL – Komitmen pemerintah melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah terus diwujudkan melalui percepatan penyelesaian Paket Preservasi Jalan Buol–Lakuan–Laulalang–Lingadan Tahun Anggaran 2026. Hingga pertengahan tahun, progres fisik pekerjaan telah mencapai sekitar 85 persen, menandai semakin dekatnya penyelesaian salah satu jalur strategis di wilayah utara Sulawesi Tengah.

Paket preservasi ini merupakan bagian dari upaya menjaga kemantapan Jalan Nasional yang menghubungkan Kabupaten Buol dengan sejumlah kawasan di sekitarnya. Penanganan meliputi pekerjaan minor efektif sepanjang 4,8 kilometer serta rekonstruksi jalan sepanjang 0,2 kilometer, sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur terhadap ancaman bencana alam.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 Provinsi Sulawesi Tengah, Eko Prasetyo Galih, menjelaskan bahwa pekerjaan tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas perkerasan jalan, tetapi juga penanganan titik-titik rawan longsor yang selama ini menjadi kendala utama kelancaran lalu lintas.
Salah satu pekerjaan penting dilakukan pada ruas Laulalang–Lingadan, yakni penanganan longsoran sepanjang 130 meter yang tersebar di dua lokasi. Penanganan dilakukan dengan pembangunan pasangan batu yang dilengkapi saluran mortar guna mengendalikan aliran air permukaan dan meningkatkan stabilitas lereng.
Sementara itu, pada ruas Lakuan–Laulalang, BPJN melaksanakan pekerjaan retrase untuk memperbaiki geometrik jalan sehingga memberikan kenyamanan dan keamanan yang lebih baik bagi pengguna jalan.

Manfaat pembangunan mulai dirasakan masyarakat. Dengan kondisi jalan yang semakin baik, waktu perjalanan menuju maupun dari Buol diperkirakan dapat dipangkas secara signifikan.
“Setelah seluruh pekerjaan selesai dan arus lalu lintas kembali normal, waktu tempuh diperkirakan sekitar tiga hingga empat jam. Kalau perjalanan santai sekitar empat jam termasuk beristirahat, sedangkan dengan kecepatan normal bisa ditempuh sekitar tiga setengah jam,” ujar Eko.
Efisiensi waktu tempuh tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, pengangkutan hasil pertanian, serta aktivitas perekonomian di wilayah utara Sulawesi Tengah yang selama ini mengandalkan ruas jalan nasional tersebut.
Selain paket preservasi, BPJN Sulawesi Tengah juga terus mempercepat penanganan longsor di kawasan Desa Pinjan. Selama proses konstruksi berlangsung, sistem buka tutup lalu lintas masih diterapkan sebagai langkah menjaga keselamatan pengguna jalan.
BPJN menargetkan jalur tersebut sudah dapat dilalui secara normal atau open traffic pada Agustus 2026.
Meski dihadapkan pada tantangan meningkatnya intensitas curah hujan, pelaksanaan pekerjaan tetap diupayakan berjalan sesuai jadwal.
“Kendala utama saat ini adalah curah hujan yang mulai meningkat. Namun kami terus mengoptimalkan pekerjaan agar dapat diselesaikan sesuai target,” kata Eko.
Melalui penyelesaian paket preservasi sepanjang 126 kilometer ini, BPJN Sulawesi Tengah berharap konektivitas antarwilayah semakin kuat, akses masyarakat menjadi lebih cepat, serta tercipta perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan efisien.
BPJN juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penggalian badan jalan guna pemasangan jaringan pipa air secara mandiri karena berpotensi merusak konstruksi jalan dan mengurangi umur layanan infrastruktur.
Di akhir penyampaiannya, BPJN Sulawesi Tengah menyampaikan apresiasi atas pengertian masyarakat selama proses pekerjaan berlangsung.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan akibat sistem buka tutup jalan selama proses konstruksi. Dukungan masyarakat sangat berarti agar pekerjaan ini dapat diselesaikan tepat waktu dan manfaatnya segera dirasakan bersama,” tutup Eko. ***












