Solusi Inovatif Perbaikan Kerusakan Jalan Tomata – Beteleme

Berantas.id, Sulawesi Tengah – Berbicara soal ruas Tomata beteleme pasti tergambar bahwa ruas jalan yang rusak di wilayah timur sulawesi Tengah.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.5 Frangky Eka Putra Paendong, ST, untuk Ruas Taripa – Tindantana Dan Taripa – Tomata – Beteleme

Ruas jalan yang ada di PJN 3 Balai Pelaksana Jalan Nasional Sulawesi Tengah (BPJN SULTENG) dinahkodai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.5 Frangky Eka Putra Paendong, ST, untuk Ruas Taripa – Tindantana Dan Taripa – Tomata – Beteleme

Dengan pekerjaan pekerjaan sebelumnya, belum memberikan suatu tingkat kepuasan bagi para penggiat konstruksi baik dari pihak pengguna maupun penyedia.

Metode yang sudah dilakukanpun pada pekerjaan sebelumnya belum memberikan suatu hasil konstruksi yang memuaskan, olehnya itu, Para ahli dibidang kontruksi jalan nasional, di Provinsi Sulawesi Tengah, tahu benar penangkal jalan yang terindikasi ekspansif itu.

Jika istilah dalam dunia kesehatan, kemoterapi itu adalah penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit, maka kemoterapi itu sangat menyakitkan.

Foto Ist

Dalam bidang kontruksi jalan, expansife itu adalah bagian dari penyakit yang harus ditangani dengan metode penanganan khusus.

Penyakit jalan raya sesungguhnya berada didalam tanah. Bila suatu saat jalan ambelas, bergelombang, dan lapisan aspal mengelupas, berarti ada sesuatu tidak beres pada tanah menyanggahnya.

Tanah ekspansif atau Expansive Soil adalah material tanah yang sensitif terhadap perubahan kadar air. Tentunya hal ini menimbulkan masalah pelik pada kontruksi jalan karena volume tanahnya berubah-ubah.

Konstruksi Jalan diatas tanah dasar yang bersifat ekspansif juga banyak dijumpai di Kabupaten Morowali Utara di beberapa titik sepanjang ruas jalan nasional Tomata – Beteleme.

Jenis tanah ini akan mengembang dan dapat menyebabkan jalan atau struktur terangkat di saat kondisi kadar air tinggi.

Sebaliknya di saat kadar airnya rendah, tanah ekspansif akan menyusut dan dapat menyebabkan penurunan jalan atau shrinkage.

Akibat perubahan muai susut (swelling and shrinkage activity) kontruksi jalan menjadi tidak stabil sehingga untuk jangka waktu yang lama terjadi keretakan memanjang dan bergelombang.

Melalui PPK 3.5 BPJN Sulawesi Tengah Frangky Eka yang pernah menjadi Asisten Program dan Perencanaan Satuan Kerja PJN 3 Prov. Sulawesi Utara TA. 2018 itu mengatakan ruas jalan nasional Tomata – Beteleme dengan panjang kurang lebih 50 kilometer dan kondisi lebar jalan 5 – 7 meter memiliki beberapa titik amblas akibat longsoran lereng bawah pada bagian tanahnya

Mantan Kaur Teknik/Kordinator Lapangan PPK 15 Tahuna Satker PJN 3 Provinsi Sulawesi Utara TA 2013 – 2015 itu mengatakan bahwa hasil

investigasi tanah dibeberapa titik badan jalan terdapat 20 titik jalan amblas akibat longsoran lereng bawah yang dipengaruhi oleh tanah pada lapis permukaan lunak.

“Ini merupakan tantangan bagi kami selaku PPK 3.5 guna mengatasi permasalahan diruas jalan Tomata – Beteleme, secara khusus masyarakat mengenal daerah tersebut dengan nama Tombet” Frangky Eka.

Pada Tahun Anggaran 2023 ini PPK 3.5 melaksanakan paket Preservasi Jalan Taripa – Tomata – Beteleme dengan menitik beratkan penanganan longsoran dengan target penanganan 955 meter, kemudian rekonstruksi jalan sejauh 2.60 kilometer, Preventiv Jalan sepanjang 2,8 kilometer, Offpavement 2,6 meter, dan rehabilitasi Jembatan 101,20 meter.

“Untuk paket regular ini dikerjakan oleh PT Pirimbilo Permai sebagai Penyedia Jasa dengan nilai kontrak sebesar Rp. 65.524.081.000,00” beber Eka.

Selain kegiatan Preservasi pada ruas yang menjadi kewenangan PPK 3.5, pada Tahun 2023 ini juga dilaksanakan penanganan permanen pada ruas jalan Taripa – Tomata – Beteleme untuk penanganan 11 titik amblas badan jalan akibat longsor lereng bawah beber Alumni Teknik Sipil Universitas Sam Ratulangi ini.

Foto ist

Lanjut eka menjelaskan kalau Penanganan kegiatan tersebut meliputi pekerjaan Pondasi Bore Pile diameter tiang Bor 60 Cm dengan rata – rata kedalaman mencapai 24 meter, Pondasi Tiang Pancang dimensi 40×40 centimeter, rata – rata kedalaman mencapai 10 meter.

“Kemudian pekerjaan dinding penahan tanah berupa pasangan batu, dinding Kantilever Beton.

Untuk penanganan badan jalan, dilakukan dengan memilih timbunan Pilihan dari sumber galian lalu kemudian dipasang Geomembran atau lembaran plastic polyethylene dengan kepadatan tinggi, memiliki struktur yang fleksibel dan Kedap Air” jelasnya.

Penggunaan material Geotekstil Non Woven untuk penanganan jalan ekspansif, tambah Eka, berfungsi sebagai separator yaitu mencegah tercampurnya lapisan material yang satu dengan material yang lainnya.

Pada paket ini, untuk lapis permukaan menggunakan Agregat Kelas A 30 centimeter, Aspal AC-BC 8 centimeter dan AC-WC 4 centimeter.

Kemudian, untuk salurun U-ditch dilakukan dengan menggunakan tipe DS3 dengan bahu jalan berpenutup dan pekerjaan Beton Rabat Fc 20.

“Target kami penanganan jalan amblas akibat longsoran lereng bawah, akan selesai dalam kurun waktu 2 tahun dengan jumlah titik longsor sebanyak 20 titik yang terbagi penaganan titik 11 titik longsor akan tuntas dikerjakan tahun 2023 ini dan sisa penanganan 9 titik longsor kami usulkan dengan skema pembiayaan SBSN yang dikerjakan pada tahun 2024 mendatang dengan stock desain yang sudah ada” tambah Eka.

Eka berharap dengan penanganan kegiatan di sepanjang ruas yang menjadi kewenangan PPK 3.5 ini, waktu tempuh antara Taripa – Tomata – Beteleme yang biasanya 3 Jam akan berkurang menjadi 2 jam, sehingga sentra produksi, pergerakkan ekonomi akan menjadi lebih maksimal dan optimal sekaligus mendukung penunjang kegiatan pertambangan yang ada di Kabupaten Morowali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *