BERANTAS.ID,SULAWESI TENGAH — Listrik bukan sekadar penerangan, tetapi pintu menuju perubahan. Melalui Program Berani Menyala, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menghadirkan harapan baru bagi ribuan warga desa yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses energi.
Di bawah kepemimpinan Anwar Hafid, program ini menjadi simbol komitmen menghadirkan pembangunan yang lebih adil hingga ke pelosok. Pelaksanaannya dikawal oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sulawesi Tengah sebagai ujung tombak percepatan elektrifikasi daerah.
Hasilnya mulai nyata. Hingga 2025, sebanyak 905 sambungan listrik rumah tangga telah terpasang di berbagai wilayah terpencil. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari rumah-rumah yang kini bisa menikmati terang, anak-anak yang dapat belajar di malam hari, dan keluarga yang mulai menggerakkan usaha kecil berbasis listrik.

KEPALA DINAS ENERGI DAN SUMBER ( Foto Ist)
Kepala Dinas ESDM Sulteng, Arfan, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menyasar kelompok paling membutuhkan.
“Program ini menyentuh langsung masyarakat yang sebelumnya belum menikmati listrik. Dampaknya sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Sigi Jadi Contoh Nyata Perubahan
Di Kabupaten Sigi, Program Berani Menyala telah menghadirkan perubahan signifikan. Sebanyak 281 sambungan listrik baru dipasang di sejumlah desa, seperti Loru, Sidera, Rarampadende, hingga wilayah Kulawi dan Kulawi Selatan.
Kini, aktivitas masyarakat tidak lagi terhenti saat matahari terbenam. Produktivitas meningkat, ruang belajar terbuka, dan peluang ekonomi mulai tumbuh dari rumah-rumah warga.
Ekspansi 2026:
Menjangkau Lebih Luas
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menatap langkah lebih besar di tahun 2026 dengan target 1.017 sambungan baru di sembilan kabupaten, antara lain:
– Kabupaten Parigi Moutong
– Kabupaten Donggala
– Kabupaten Tolitoli
– Kabupaten Morowali
– Kabupaten Morowali Utara
– Kabupaten Tojo Una-Una
– Kabupaten Banggai
– Kabupaten Banggai Laut
– Kabupaten Sigi
Ekspansi ini diharapkan mempercepat pemerataan listrik sekaligus memperkecil kesenjangan antarwilayah.
Menembus Batas Geografis
Perjalanan menghadirkan listrik ke pelosok bukan tanpa hambatan.
Topografi Sulawesi Tengah yang didominasi pegunungan, akses jalan terbatas, serta distribusi material yang menantang menjadi ujian tersendiri.
Belum lagi faktor biaya penyambungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan kondisi cuaca yang kerap menghambat pekerjaan di lapangan. Meski demikian, strategi bertahap tetap dijalankan dengan fokus pada wilayah yang telah siap jaringan listrik.
Tepat Sasaran, Kolaboratif
Program ini dijalankan secara selektif melalui verifikasi data bersama pemerintah daerah dan PT PLN (Persero). Sasaran utamanya adalah keluarga miskin ekstrem, rumah tangga tanpa meteran listrik, serta desa dengan rasio elektrifikasi rendah.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kekuatan utama. Pemerintah kabupaten turut berperan dalam pemetaan wilayah, penyediaan lahan, hingga dukungan anggaran.
Menuju Desa Mandiri Energi
Tak berhenti pada sambungan rumah tangga, Pemprov Sulteng juga menyiapkan pembangunan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) sebagai solusi bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik konvensional.
Langkah ini menjadi bagian dari visi besar: memastikan tidak ada lagi wilayah gelap di Sulawesi Tengah.
“Listrik adalah fondasi pembangunan. Ketika desa terang, maka pendidikan, kesehatan, dan ekonomi ikut bergerak,” tegas Arfan.
Program Berani Menyala bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan gerakan perubahan.
Dari pelosok menuju terang, Sulawesi Tengah kini melangkah lebih pasti menuju masa depan yang inklusif dan berkeadilan.












